Review Buku Timun Jelita dan Sesi Book Signing
Buku Timun Jelita yang pertama, gue beli segera setelah Raditya Dika mengumumkan jadwal Pre Ordernya. Padahal sudah terlalu lama gue nggak beli buku. Jujur, agak canggung saat kembali membuka buku dan membacanya. Di rumah pun ada beberapa buku yang pernah gue beli, tapi nggak gue selesaikan bahkan nggak gue buka plastiknya.
Tapi ini bukunya Raditya Dika.
Yang gue kenal sejak kecil, saat para blogger dalam masa kejayaannya. Premis bukunya pun simple dan cukup menyentil diri ini ; seorang bapak-bapak usia 40 tahunan yang kembali menemukan passionnya yang telah lama hilang, yaitu bermusik. Buku ini pun ia terbitkan sejalan dengan lagu-lagunya yang berjudul sama, Timun Jelita.
Buku Timun Jelita volume 1 menceritakan bagaimana Timun, seroang akuntan freelance berusia 40 tahun kembali bermusik setelah menemukan gitar almarhum ayahnya, yang mengubur mimpi masa mudanya dulu.
'Tapi hidup terkadang terlalu tega untuk mimpi-mimpi kita. Realitas membuat kita harus mengerti, kapan mimpi lama harus dihentikan karena nasib memaksa untuk berjalan ke arah yang lain.' - Timun Jelita
Ini adalah salah satu kalimat yang gue baca berulang. Bukan karena nggak ngerti, tapi karena terlalu relate. Saat baca ini gue masih duduk di kursi kantor yang kalau gue geser dikit, mengeluarkan bunyi "ckiittt", baca kalimat itu buat gue meringis, begitu pula dengan kursi kantor yang gue duduki. Bertahun-tahun bekerja, membuat gue lupa bahkan kehilangan semangat untuk menulis. Waktu istirahat semaksimal mungkin gue isi dengan tidur, beres-beres, dan scrolling. Kemampuan untuk membaca dan menulis terkikis karena lebih sering menonton video berdurasi pendek.
Peran Putri, istrinya pun bikin gue tersentuh, karena selalu mendukung apapun yang Timun suka dan kerjakan. Bukan hanya kalimat semangat saja, tapi juga benar-benar mencari tahu apa yang dibutuhkan Timun. Mungkin Putri di sini, cerminan dari sikap istrinya Bang Radit, ya? Gemas >,<
Jelita dan Robert pun punya ceritanya masing-masing. Gue suka bagaimana cara Bang Radit menggambarkan peran Robert di sini. Khas tulisan Bang Radit, selalu ada peran badut yang lucu - kadang nggak guna, tapi perannya banyak membantu kesuksesan Timun Jelita.
Buku Timun Jelita volume 2, gue beli saat akun gagasmedia memposting acara Book Signing Timun Jelita. Buku yang bisa ditanda-tangani yaitu buku Timun Jelita 1 & 2. Gak pakai mikir, gue pun check out buku Timun Jelita volume 2 biar bisa sekalian ditanda-tangani.
Buku keduanya lebih menceritakan bagaimana perjuangan Timun Jelita melanjutkan pembuatan EP kedua mereka, setelah EP pertama telah sukses didengarkan oleh banyak pendengar di berbagai kanal musik. Pembuatan EP kedua ini dibalut dengan berbagai cerita dari Timun, Jelita hingga Robert yang punya porsinya masing-masing dalam tiap lagunya. Selain itu, usaha mereka untuk lebih besar banyak terhalang berbagai hal sampai pada suatu waktu, Timun berhenti bermain musik.
Buku kedua ini lebih tebal, ada 229 halaman. Tapi di buku kedua ini, bisa gue habiskan dalam dua kali duduk. Sebuah pencapaian yang sangat berarti bagi gue, mengingat buku pertama nya gue habiskan di banyak sela-sela waktu bekerja.
-
Sesi Book Signing Timun Jelita saat itu digelar di Gramedia World, BSD. Setelah mendaftar pada halaman formulir, gue baru mengecek lokasinya. Jarak tempuh menggunakan transportasi umum sekitar 2 jam. Tak pernah terbayangkan akan serajin itu gue untuk bangun pagi dan jalan ke BSD. Minggu pula. Naik KRL pula.
Tapi tak apa, book signing adalah sesi yang gue nantikan karena dapat bertemu lagi dengan Bang Radit. Dulu, pertama kali gue ikut book signing di tahun 2012, saat buku Manusia Setengah Salmon terbit. Saat itu gue masih SMP, janjian dengan teman sekelas gue, Annisa, kita berangkat bareng ke Gramedia Matraman.
Kali ini gue berangkat sendiri. Setelah menikah dan menjalani hubungan jarak jauh, apa-apa yang gue lakukan dan datangi selalu sendiri. Semua teman sepantaran sudah sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga gue paham dan gak ingin mengganggu hanya untuk sekedar minta temenin. Inilah salah satu adegan dewasa.
Setelah sampai dan melakukan registrasi ulang, gue mengantre dengan peserta lainnya. Saat gue datang, kursi telah terisi penuh sehingga gue harus mengantre sambil berdiri. Sesi book signing kali ini menurut gue cukup sepi. Nggak seperti book signing Manusia Setengah Salmon dan Koala Kumal yang dulu gue datangi. Mungkin karena diberlakukan registrasi terlebih dahulu. Alurnya pun simple dan rapih. Jam 10 lewat dikit, acara dimulai dan semakin dekat dengan panggung, semakin gue gemeteran.
Pasalnya, Bang Radit membebaskan kita untuk bertanya apa saja.
Setiap peserta yang bertanya pun dijawab dengan baik, nggak jarang juga dijadikan bahan lelucuan. Gue mengamati banyak juga pembaca lamanya. Sampai ada yang bawa bayi. Gue bingung, mau tanya apa? Sebenarnya banyak, tapi jika gue tanyakan semuanya pasti akan jadi podcast, sementara masih banyak peserta yang mengantre.
Gue pun mencari foto saat sesi book signing Manusia Setengah Salmon. Kualitas fotonya yang jelek, ditambah gue yang saat itu masih culun. Gue tunjukin ini, atau gue tanya loker aja ya? Mumpung minggu depan gue sudah resign.
Semakin dekat dengan panggung, pikiran gue semakin kosong. Saat giliran gue, gue duduk di samping Bang Radit dan nggak bisa ngomong. Tapi gue nggak mau menyia-nyiakan momen ini. Ingat juga jarak tempuh Bekasi-BSD melewati Tanah Abang ini, Dit.
Sebisa mungkin gue mengeluarkan suara, namun entah kenapa suara yang keluar seperti tercekik, bibir gue gemetar dan hasilnya suara gue terdengar pelan sekali. Dan yang bisa gue obrolin akhirnya hanya foto jadul itu saja. Bang Radit pun merespon dengan sangat baik. "Ih gue jelek banget", "Waw waktu berjalan begitu cepat ya" dan juga ikut bertanya, "Eh itu di mana ya?" gue pun jawab, masih dengan suara gue yang aneh, "Gramedia Matraman, Bang" lalu kita foto bersama dan gue turun dari panggung.
Inilah hasil foto-fotonya :
Gue menceritakan kejadian ini langsung kepada suami gue. Dia sudah hafal dengan kegemaran gue akan karya-karya nya Bang Radit. Jadi agenda ini pun terjadi berkat izin dari suami juga. Hehe.
Sebelum turun panggung, gue juga sempat mengucapkan terima kasih. Mungkin terdengar sebagai ucapan terima kasih karena bukunya telah ditanda-tangani. Tapi lebih dari itu, gue banyak berterima kasih sama Bang Radit, yang sudah menemani perjalanan menjadi dewasa ini dengan karya-karyanya hingga bukunya yang sekarang menjadi relate dengan kejadian yang sedang gue alami.
Membuat gue berpikir ulang, apa sih yang gue suka? Apa yang gue inginkan? Apa yang membuat gue hidup? Yang sedari lama, jawaban itu selalu ada tapi nggak pernah gue perjuangkan. Kini gue kembali ke Dita di tahun 2012 silam; yang gemar membaca dan menulis.



.jpeg)
.jpeg)




Komentar
Posting Komentar